Hari ini berkah untuk semua pegawai karena pilkada serentak dilakukan di seluruh kota di Indonesia. Meskipun di Jogja tidak ada pilkada, tapi Jogja juga kecipratan liburnya. Di Jogja, pemimpin daerah tidak dipilih, melainkan ditetapkan sebagai Gubernur sekaligus Sultan dengan Undang-Undang Keistimewaan. Apa iya Jogja Istimewa? Biasanya orang Jogja mesam-mesem kalo dibilang Jogja Istimewa, tapi rasanya kok biasa saja, ya.
Dulu memang saya pikir Jogja istimewa. Bagaimana tidak. Cuma di Jogja saya masih bisa dapati iring-iringan pesepeda di jalan-jalan utama kota. Itu masa ketika saya masih kecil dan beberapa kali Jogja menjadi tujuan utama keluarga kami di saat musim liburan sekolah. Perasaan yang sama masih saya rasakan ketika saya kuliah di Bandung dan sesekali berkunjung ke Jogja untuk melepas kangen dengan kakak. Jogja di masa itu juga menjadi kiblat kerja intelektual untuk penerbitan buku-buku terjemahan dengan tema-tema progresif.
Sekarang, apa kabar Jogja? Banyak yang berubah dari Jogja. Lebih banyak hotel, lebih banyak mal, lebih banyak apartemen, lebih banyak hiburan malam, dan lebih banyak kemacetan juga. Sementara waterboom bermunculan di mana-mana, di berita disebutkan banyak kecamatan di Jogja yang mulai mengalami kekeringan. Sementara amusement park dibangun di hampir semua kabupaten kota sebagai wahana rekreatif berbayar, belum ada inisiatif untuk membuat community park yang bisa diakses dengan mudah, tanpa harus membayar, di Jogja.
Kecuali di Malioboro, ruang publik di Jogja terbilang minim bila dibandingkan dengan kota besar seperti di Bandung, dimana ruang-ruang publik tersebar di banyak titik di penjuru kota. Terlepas dari banyaknya kritik yang dialamatkan kepada walikota Bandung untuk pendekatan pembangunan kotanya yang dianggap middle-class-oriented, kok saya malah melihat orientasi pembangunannya lebih inklusif, ya, karena mengakomodasi kebutuhan dan partisipasi komunitas lokal yang bersifat lintas-kelas. Lihat saja taman-taman di Bandung yang ketika lebaran tahun ini menjadi salah satu destinasi rekreatif yang murah. Lihat juga fasilitas edukasi publik yang disediakan di taman-taman tersebut yang mengajarkan pengunjung tentang kesehatan, hidroponik, urban gardening, sejarah kota Bandung di masa lalu, visi pembangunan kota Bandung di masa depan, dan masih banyak lagi. Pembangunan taman yang bersifat tematik juga bisa dilihat sebagai bentuk edukasi publik yang efektif untuk menajamkan masyarakat dengan isu-isu sosial kontemporer di sekitar mereka, bahkan cara-cara yang mungkin didesain untuk mebangun resiliensi kota dalam menghadapi isu-isu tersebut.
Entahlah, agak jomplang rasanya ketika saya membandingkan arah pertumbuhan kedua kota ini. Padahal kalau dipikir-pikir dua-duanya sama-sama gudang pemikir di Indonesia, masyarakatnya juga sama-sama kreatif, tapi keluarannya kok bisa beda, ya. Mungkin memang perlu visi yang lebih terarah dari pemimpinnya. Tapi, aduh, siapa saya yang bisa ngomong begini? Mending beberes, ah.
Showing posts with label Belajar Menulis Lagi. Show all posts
Showing posts with label Belajar Menulis Lagi. Show all posts
Tuesday, June 26, 2018
Tuesday, July 2, 2013
Belajar Menulis #5 Do Not Copy, please ...
Kemarin saya sempat membaca tulisan bagus yang diposting di blog Ibu-Ibu Doyan Nulis, salah satu forum yang saya ikuti sebagai anggota. Tulisan itu membahas masalah plagiarisme di dunia blogger. Agak tersentak juga saya membaca tulisan itu karena ternyata masalah di dunia blogging tidak jauh dari masalah yang biasa dihadapi di dunia akademik.
Sebagai pembelajar baru di belantara blogging dan penulis wannabe, saya merasa cukup khawatir dengan maraknya plagiarisme yang mewabah. Saya yakin setiap orang ingin sekali bisa berusaha dengan apa yang dimilikinya, dan besar/kecilnya penghargaan terhadap karya orang lain sebenarnya merefleksikan besar/kecilnya penghargaan terhadap karya sendiri. Kalau mau jujur, setiap orang juga pastinya ingin dihargai kan dengan karya-karyanya, jadi kemarahan sudah pasti wajar kalau bicara tentang hak cipta yang diambil alih begitu saja.
Sebenarnya ada banyak cara untuk menjadi apa pun yang lebih baik ... istri yang lebih baik, ibu yang lebih baik, penulis yang lebih baik, dst yang lebih baik. Dari banyak cara yang tersedia, saya percaya bahwa belajar dari kesalahan adalah guru yang paling baik ... jalannya mungkin lewat peluh dan aral melintang yang melelahkan dan kadang terasa pahit ditelan, tapi kalau kita ikhlas dan mampu berdamai dengan segala pengorbanan di muka, insyaAllah buahnya juga akan terasa manis di akhir, apalagi jika diresapi dengan penuh kesyukuran.
Sebagai pembelajar baru di belantara blogging dan penulis wannabe, saya merasa cukup khawatir dengan maraknya plagiarisme yang mewabah. Saya yakin setiap orang ingin sekali bisa berusaha dengan apa yang dimilikinya, dan besar/kecilnya penghargaan terhadap karya orang lain sebenarnya merefleksikan besar/kecilnya penghargaan terhadap karya sendiri. Kalau mau jujur, setiap orang juga pastinya ingin dihargai kan dengan karya-karyanya, jadi kemarahan sudah pasti wajar kalau bicara tentang hak cipta yang diambil alih begitu saja.
Sebenarnya ada banyak cara untuk menjadi apa pun yang lebih baik ... istri yang lebih baik, ibu yang lebih baik, penulis yang lebih baik, dst yang lebih baik. Dari banyak cara yang tersedia, saya percaya bahwa belajar dari kesalahan adalah guru yang paling baik ... jalannya mungkin lewat peluh dan aral melintang yang melelahkan dan kadang terasa pahit ditelan, tapi kalau kita ikhlas dan mampu berdamai dengan segala pengorbanan di muka, insyaAllah buahnya juga akan terasa manis di akhir, apalagi jika diresapi dengan penuh kesyukuran.
Wednesday, June 26, 2013
Belajar Menulis #4 Terapi Menulis
Dulu, waktu saya masih kuliah, saya pernah membaca buku tentang menulis sebagai terapi. Saya lupa siapa penulisnya, tapi yang jelas ia adalah seorang psikolog. Diterbitkan oleh Mizan, buku itu merupakan buku terjemahan dan di buku itu dijelaskan bagaimana menulis bisa menjadi terapi bagi jiwa. Saya sebenarnya tidak terlalu ngeh dengan maksud dari isi buku itu, karena saya dulu terbiasa memamah tulisan tanpa benar-benar paham apa maksudnya, lalu membiarkan diri saya menangkap maknanya lewat Aha! Moment. Sekarang, setelah punya blog dan mencoba membiasakan diri menulis saya baru pahami kebenaran isi buku itu.
Setelah kurang lebih tiga bulan ngeblog, saya merasakan sendiri bagaimana menulis menjadi terapi bagi jiwa. Dalam tulisan, saya bisa mengungkapkan kegembiraan, kesedihan, bahkan kegundahan. Dalam tulisan, saya juga bisa menyampaikan kesan yang saya miliki terhadap sesuatu, baik positif maupun negatif. Dalam tulisan, saya bisa mendapatkan kebebasan untuk mengekspresikan pendapat saya dan nilai-nilai yang saya pandang penting untuk dibagi. Karena itu, dalam tulisan, saya merasa memiliki kekuatan untuk berbagi. Bagi saya pribadi, kemampuan untuk berbagi kesan dan pelajaran dalam tulisan saya adalah salah satu sumber kekuatan dan kesehatan bagi jiwa.
Agar bisa menjadi terapi yang positif bagi jiwa, saya yakin menulis haruslah yang positif, bahkan sekalipun ingin menulis kesan pengalaman negatif, tetap saja harus diikat maknanya dalam sebuah pelajaran yang positif. Prinsipnya sederhana: seseorang tidak mungkin memiliki jiwa yang sehat ketika pada saat yang bersamaan ia sibuk mengumbar negativitas tanpa mampu menarik intisari yang terkandung di dalamnya. Karena itulah menulis menjadi sarana untuk mendisiplinkan diri menarik hikmah dari setiap kejadian. Dengan cara yang sama, seseorang akhirnya belajar untuk berdamai dengan dirinya sendiri lewat tulisan-tulisannya ... wallahu'alam.
Setelah kurang lebih tiga bulan ngeblog, saya merasakan sendiri bagaimana menulis menjadi terapi bagi jiwa. Dalam tulisan, saya bisa mengungkapkan kegembiraan, kesedihan, bahkan kegundahan. Dalam tulisan, saya juga bisa menyampaikan kesan yang saya miliki terhadap sesuatu, baik positif maupun negatif. Dalam tulisan, saya bisa mendapatkan kebebasan untuk mengekspresikan pendapat saya dan nilai-nilai yang saya pandang penting untuk dibagi. Karena itu, dalam tulisan, saya merasa memiliki kekuatan untuk berbagi. Bagi saya pribadi, kemampuan untuk berbagi kesan dan pelajaran dalam tulisan saya adalah salah satu sumber kekuatan dan kesehatan bagi jiwa.
Agar bisa menjadi terapi yang positif bagi jiwa, saya yakin menulis haruslah yang positif, bahkan sekalipun ingin menulis kesan pengalaman negatif, tetap saja harus diikat maknanya dalam sebuah pelajaran yang positif. Prinsipnya sederhana: seseorang tidak mungkin memiliki jiwa yang sehat ketika pada saat yang bersamaan ia sibuk mengumbar negativitas tanpa mampu menarik intisari yang terkandung di dalamnya. Karena itulah menulis menjadi sarana untuk mendisiplinkan diri menarik hikmah dari setiap kejadian. Dengan cara yang sama, seseorang akhirnya belajar untuk berdamai dengan dirinya sendiri lewat tulisan-tulisannya ... wallahu'alam.
foto: dokumentasi pribadi
Sunday, June 9, 2013
Belajar Menulis #3 Oleh-oleh dari Film Harry Potter
Weekend yang paling menyenangkan bagi saya adalah diam di rumah dan nonton film bareng Abi dan anak-anak. Kebetulan weekend kemarin kami habiskan dengan diam di rumah dan nonton bareng [film] Harry Potter.
Kebetulan lagi, setelah menonton film, Abi bertanya kepada kami semua, bagian mana dalam film yang paling berkesan. Abi juga meminta kami menyebutkan alasannya. Menurut si sulung, bagian yang paling menarik adalah ketika Albus Dumbledore meninggal. Saking berkesannya, ia ikut merasa sedih melihat Harry kembali harus kehilangan orang yang disayanginya, setelah kematian orangtuanya dan Sirius Black. Sementara itu, menurut si bungsu, bagian yang paling berkesan adalah ketika Voldemort membunuh James dan Lily Potter. Bagi saya sendiri, bagian yang paling berkesan adalah ketika Harry mengetahui bahwa Severus Snape ternyata berusaha melindungi dirinya dari Voldemort dan peristiwa terbunuhnya Dumbledore merupakan rekayasa yang dibuat oleh Dumbledore. Saya memilih bagian itu karena bagian itu benar-benar diluar dugaan saya sebagai penonton filmnya dan adanya unsur emosi yang terlibat (bahwa Severus jatuh cinta pada Lily Potter dan berusaha menunjukkan ketulusan cintanya dengan melindungi Harry) telah menambah daya tarik cerita yang barangkali juga tidak terpikirkan oleh kebanyakan penonton seperti saya.
Dari kebetulan yang kedua tadi, saya belajar tentang satu hal yang bersifat teknis untuk membuat cerita: bahwa tokoh abu-abu kadang diperlukan untuk menambah daya tarik cerita, dan peran dari tokoh ini sebaiknya dibuat 'tidak terang' (untuk membedakannya dengan gelap), hingga cerita menjelang berakhir.
Dari kebetulan yang kedua tadi, saya belajar tentang satu hal yang bersifat teknis untuk membuat cerita: bahwa tokoh abu-abu kadang diperlukan untuk menambah daya tarik cerita, dan peran dari tokoh ini sebaiknya dibuat 'tidak terang' (untuk membedakannya dengan gelap), hingga cerita menjelang berakhir.
Entah apakah ini juga pelajaran penting untuk menulis cerita yang baik, tapi saya melihat adanya peningkatan suspens dari film pertama hingga film terakhir. Jika film pertama lebih bersifat perkenalan tentang siapa Harry, bagaimana ia mengawali hidupnya di Hogwarts, dan berkenalan dengan Voldemort, di film kedua mulai diperkenalkan tentang misteri dibalik You-Know-Who dan keterlibatannya dengan Hogwarts, sedangkan klimaks (menurut saya) mulai diperkenalkan di film ketiga ketika Harry ditinggal pamannya, Sirius Black, yang mati dibunuh Bellatrix dan Harry sendiri dikejar-kejar oleh Voldemort. Pembukaan klimaks ini ditambah dengan klimaks puncak ketika Harry kembali ditinggal oleh mentornya, Dumbledore, dan Harry harus mencari sisa Horcrux yang belum ditemukan agar ia bisa melemahkan Voldemort sebelum mereka bertemu.
Yang tidak kalah menarik dari film ini adalah bagaimana J.K. Rowlings menunjukkan melalui Harry tentang sikap-sikap positif tentang keberanian, keteguhan terhadap prinsip, kesetiaan dan persahabatan. Sayang, film itu juga diselingi adegan yang tidak layak ditonton anak-anak. Saya harus beberapa kali menjelaskan kepada anak-anak saya juga tentang perbedaan budaya dan inkompatibilitas budaya Barat dengan nafas Islam.
http://harrypotter.wikia.com/wiki/File:Wizarding-world-of-harry-potter-logo.jpg
Thursday, May 30, 2013
Belajar Menulis #1 Ide Datang, Ide Melayang
Sebagai blogger pemula, saya suka bingung mau menulis apa. Rasanya kegiatan yang saya jalani biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Mungkin karena masih belajar memupuk kebiasaan menulis, jadi saya masih sering kebingungan mengolah hal yang biasa menjadi istimewa.
Abi, komentator dan motivator terbaik saya, mengatakan, menulislah sesuai ide yang terlintas di pikiran. Hmmm, masalahnya ide pun sering kali tak kunjung datang. Seakan-akan bersembunyi, dicari-dicari tetap saja sulit ditemukan.
Anehnya, saya sering sekali merasakan, justru pada waktu-waktu di mana saya sibuk mengerjakan hal lain dan bersifat urgen, ide mengalir lancar tanpa diundang. Hari senin siang, saat saya dalam perjalanan menjemput si sulung, misalnya, tanpa ada angin dan hujan, tiba-tiba saja ide sudah nangkring dengan manisnya di kepala saya. Saya merasa antusias, sampai-sampai ikut berusaha terlibat dengan mengembangkan 'kalau begini ... kalau di tambah itu ... aaah! kalau jadi seperti ini ... '. Tapi waktu saya sampai rumah, ide yang tadinya sudah kriuk tiba-tiba jadi melempem. Gara-garanya, ketika saya duduk di depan komputer saya ingat bahwa saya masih punya utang pekerjaan yang belum saya lunasi. Duh.
Sekarang, setelah saya selesaikan utang saya, entah kenapa ide yang dulu mampir itu tiba-tiba melantur, menguap dan hampir menghilang. Ingin sekali saya bisa menangkap utuh gagasan yang sama ... hup, hup.
Ketika saya mengeluhkan tentang hal ini kepada Abi, kembali ia memotivasi saya dan mencoba memberi solusi. Dia bilang, masalah saya ini klasik dan bisa diselesaikan dengan cara klasik juga: rajin mencatat. Saya memang belum punya kebiasan ini. Dulu saya punya satu buku kecil khusus untuk mencatat ide-ide yang sempat bertengger di kepala saya, tapi kemudian saya dihinggapi lupa. Lupa dimana menyimpan bukunya. Akhirnya pe-er saya malah bertambah: lupa ide dan lupa menyimpan buku ide. Shhh ...
foto: dokumentasi pribadi
Subscribe to:
Posts (Atom)



