Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

Thursday, June 13, 2013

Wawancara Kerja

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan surat panggilan wawancara dari sebuah perusahaan. Ini adalah jawaban dari lamaran yang saya layangkan beberapa waktu sebelumnya. Meski saya yakin ini bukan tahapan seleksi final, tapi saya bersyukur karena setidaknya lamaran saya mendapatkan jawaban.

Tapi karena sudah lama tidak mengalami proses wawancara kerja, saya jadi bingung sendiri apa yang harus saya persiapkan. Akhirnya persiapan yang saya lakukan hanya satu saja: persiapan mental, apa pun hasilnya insyaAllah itu yang terbaik.

Di hari wawancara, supaya tidak terlambat saya sudah duduk manis menunggu giliran wawancara 1 jam sebelumnya. Wawancaranya sendiri tidak lama, tidak lebih dari 1 jam, tapi mungkin saya sendiri tidak siap dengan perkiraan pertanyaan yang biasanya ditanyakan saat wawancara, jawaban saya pun melebar ke kanan, ke kiri, memutar, meliuk tidak karuan. Hadeh ...

Saya sedih juga ketika wawancara berhenti di pertanyaan: apakah sudah punya pengalaman...? dan saya hanya bisa bilang, belum. Faktanya, saya memang belum punya pengalaman pada pekerjaan yang saya lamar. Saya jadi bertanya-tanya, jika setiap perusahaan hanya ingin merekruit pegawai yang sudah berpengalaman, di mana kesempatan bagi orang yang belum berpengalaman seperti saya. 

Karena saya ingin agar cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi pembaca, saya mencoba merangkum pelajaran penting yang saya dapatkan dari sedikit pengalaman wawancara saya kemarin:
(1) kenali kekuatan dan kekurangan diri sendiri
(2) kenali profil perusahaan: sejarah, visi-misi, produk
(3) jika tidak punya pengalaman, tonjolkan aspek kekuatan diri sendiri untuk mengompensasikan ketiadaan pengalaman yang dimiliki. misal: self-motivated, fast learner, dst.
(4) jangan bicarakan masalah pribadi saat menyebutkan kekurangan diri sendiri, apalagi terkait pengalaman di tempat kerja sebelumnya
(5) beri jawaban yang singkat, lugas, dan jelas

Di luar kelima point di atas, saya percaya bahwa keyakinan bahwa Dia hanya akan memberikan keputusan terbaik juga penting agar saya bisa tetap tersenyum, apa pun hasilnya ^^


 foto: dokumentasi pribadi

Friday, June 7, 2013

Ketika internet sakit ...

Sudah beberapa hari ini ngga bisa online pasalnya internet di rumah sering demam, koneksi internet pun jadi terganggu. Tapi, dua hari tanpa internet ternyata lumayan untuk mendetox saya dari keinginan untuk mengecek pesan di fesbuk dan di email, memelototi blog tanpa mampu menambah isinya ^^ ataupun melakukan bid untuk akun freelancer saya tanpa saya mampu mendapatkan hasil dari berbagai proyek yang ditawarkan di sana.

Ternyata, ketika internet sakit saya jadi punya waktu untuk berpikir ulang tentang seabrek kegiatan saya di dunia maya dan bagaimana semua itu berkorelasi dengan kepanikan saya menghadapi kondisi purna tugas. Abi pernah bertanya, apakah semua kegiatan itu dimaksudkan untuk menghasilkan sesuatu? Waktu itu saya bilang dengan mantap, insyaAllah iya, karena memang itu tujuan saya. Tapi mungkin cara saya untuk mendayagunakan waktu dan energi saya untuk mencapai tujuan masih belum sejalan, dibandingkan waktu yang saya pakai untuk tujuan yang benar-benar produktif mungkin saya masih banyak porsi yang saya habiskan untuk tujuan non-produktif untuk, misalnya, sekadar mengecek status teman dan akun pribadinya di fesbuk, yang terburuk adalah jika saya kemudian membandingkan diri sendiri dengan keadaan teman lainnya yang dianggap lebih lalu memberi ruang untuk bibit iri bersemayam di hati. Astaghfirullahal adziim ...

Lalu, ketika internet mulai batuk-batuk dua hari yang lalu hingga akhirnya benar-benar butuh istirahat selama satu hari kemarin, saya punya cukup waktu untuk membersihkan pikiran saya, bahkan juga merecharge motivasi dan tujuan saya untuk berkecimpung di dunia permayaan. Puasa adalah detox yang paling sehat dan saya harus berterima kasih Pada Sang Maha Kasih karena memberi saya kesempatan untuk mendetox diri saya dengan caranya yang paling indah. Sungguh.

foto: dokumentasi pribadi



Saturday, June 1, 2013

Belajar Menulis #2 Indonesian Moms' Bloggers

Baru beberapa hari yang lalu saya ikut bergabung dengan KEB (Kumpulan Emak-Emak Blogger), dan saya dibuat terkagum-kagum dengan kemampuan para emak yang ternyata doyan ngeblog. Ya ampun, ke mana aja saya selama ini, yak? Hmmm ... untuk menghindari curcol yang tidak perlu di blog ini, saya mau cerita tentang emak-emak hebat yang saya sambangi blognya.

Kalau saya perhatian, blog-blog ini dikelola secara pribadi oleh para emak. Ada yang masih pemula seperti saya, tapi lebih banyak lagi yang sudah malang melintang di dunia blogging. Ini, misalnya, keliatan dari banyaknya tulisan yang sudah mereka posting dan penggunaan template blogging yang di luar standar ... di tangan emak-emak ini, blog-blog mereka jadi terlihat indah dan profesional. Tulisan mereka juga bagus-bagus, saya kadang mikir sendiri ... kok bisa ya mereka kepikiran menuliskan tema itu di blog mereka, sementara saya masih sering jumpalitan cari ide sana-sini untuk dituliskan di blog saya. Topik yang mereka tuliskan berangkat dari hal-hal keseharian, tapi gagasan yang mereka tawarkan benar-benar fresh. Orisinil dan keren. Seru lah. Banyak dari mereka yang ibu rumah tangga, seperti saya, tapi banyak juga yang bekerja, part time maupun full time. Super!

O ya, anggota KEB sendiri tersebar di seluruh Indonesia bahkan hingga ke mancanegara. Mereka yang tinggal di mancanegara adalah emak-emak asal Indonesia, namun karena kerja ataupun keluarga jadinya tinggal di luar negeri. Di KEB para emak ini saling memotivasi dan berbagi informasi. Duh, saya jadi malu sendiri ... sering saya bicara tentang pemberdayaan perempuan tanpa tau bagaimana menerapkannya dalam tindakan. Tapi di KEB, saya melihat sendiri bagaimana perempuan berdaya dengan kesadaran dan kehendak dirinya sendiri. Jempol buat KEB dan para emak. Hidup emak-emak Indonesia!


foto: dokumentasi pribadi

Friday, May 3, 2013

Majalah dan buku bekas (Bagian 1 dari 2 Tulisan)

Sekitar tiga minggu yang lalu saya membeli majalah bekas dalam jumlah yang cukup banyak. Saya senang membeli majalah bekas karena, selain harganya yang murah, saya bisa membeli majalah sesuai dengan topik yang menjadi perhatian saya. Di samping itu, majalah bekas juga banyak yang dijual dalam keadaan terbungkus plastik, alias masih baru. Lagipula, karena bukan koran, isi majalah juga tidak pernah basi. Pendeknya, membeli majalah bekas itu klop dengan selera dan kebutuhan saya.

Kalau buku bekas, saya sudah lama sekali tidak membelinya. Entahlah, mungkin karena kehadiran internet sebagai sumber informasi yang, meski tidak bisa selalu dipercaya, namun relatif murah dan aksesibel sehingga saya dibuat nyaman dengan kebiasaan memamah informasi yang membanjir namun seringkali tak-utuh itu. Dulu, karena belum ada internet dan untuk menghemat kiriman orangtua, berburu buku bekas--baik untuk referensi mengerjakan tugas atau untuk asupan bacaan--mutlak dilakukan agar tidak mengalami kebangkrutan di tengah bulan.

Di Jakarta, lapak buku bekas di emperan jalan yang saya tau masih bisa ditemui di sekitar Senen dan Kwitang meski jumlahnya sudah banyak berkurang dari jaman saya kecil dulu. Kalau toko buku bekas, saya hanya tau dua saja, di daerah TIM dan di lantai bawah Pasar Festival. Terakhir saya sambangi yang di TIM empat tahun lalu, sewaktu menunggu jam buka loket penjualan tiket untuk pertunjukan drama musikal anak-anak. Tapi, yang di Pasar Festival tampaknya malah sekarang sudah tutup atau mungkin pindah lokasi saja.

Meski berbeda dengan emperan yang biasa saya sambangi di jaman sekolah dulu, tapi sensasi yang muncul dari lapak buku bekas selalu sama. Mengubek-ubek tumpukan atau deretan buku dan majalah bekas untuk mencari satu tema yang dicari ataupun dinanti itu benar-benar ... sesuatu. Bagaimana tidak, jika toko buku modern menawarkan efisiensi untuk pencarian di rak mana lokasi buku berada melalui bantuan mesin pencari, lapak buku bekas biasanya menawarkan kebalikannya ... dan, bagi saya, itulah keunggulannya. Di zaman ketika orang ingin segalanya serba mudah dicapai, serba cepat diraih, orang yang menyambangi lapak buku bekas harus menyiapkan tidak hanya tenaga tapi juga waktu dan kesabaran untuk menemukan apa yang dicari.

Entah dengan orang lain, tapi bagi saya, kesenangan saat berhasil menemukan buku yang saya cari di lapak buku bekas tidak bisa disamakan dengan kesenangan menemukan buku yang saya cari di toko buku. Pernah sekali waktu, saya berhenti di Cikapundung untuk melihat-lihat buku bekas yang terlindung plastik dari debu-debu di emperan jalan. Tidak ada niatan untuk membeli buku karena uang di saku hanya 23 ribu. Kalau dipaksakan membeli buku pastinya tidak akan ada sisa ongkos pulang. Namun ada 2 judul buku yang masih baru, rapi tersampul plastik, tanpa coretan di dalamnya, dan temanya sungguh menarik hati.

Setelah lama membolak-balik dan membaca beberapa lembar isinya, bapak itu menyebutkan harganya.
"satu bukunya 15.000 aja, Neng."
Sambil permisi saya katakan, "wah, uang saya tidak cukup, Pak. Maaf. Lain kali saya akan kembali."

Namun bapak itu malah ingin melepaskan buku itu dengan harga seberapa pun yang saya mampu. Menurutnya, "baru 10 menit yang lalu buku ini didrop pemilik lamanya, Neng. Bukunya pasti bagus ya, Neng, soalnya jarang-jarang ada buku yang baru hitungan menit sudah ada yang mau begini."

Saya katakan, bukunya memang bagus. Tapi saya juga bilang, uang saya pasti tidak akan cukup untuk menutup modalnya membeli buku ini dari tangan sebelumnya.
Namun bapak itu bersikeras, "biar ngga apa-apa, Neng. Rejeki sudah ada yang atur. Selama masih ada usaha, insyaAllah ngga akan rugi. Lagian, buku bagus banyak yang cari. Kalau lain kali Neng main ke sini lagi, belum tentu bukunya masih ada sama bapak."

Betul juga, pikir saya. Lalu sambil mengambil selembar 20-ribuan, saya katakan bahwa saya hanya akan ambil 1 buku saja.
Bapak itu kembali bersikeras. "Ambil 2, saya kasih 20.000 ya?" tanyanya retoris. Lalu ia buru-buru menyimpan 2 buku itu ke dalam plastik.
"Tapi uang itu kan masih kurang, Pak. Nanti saya hutang," kata saya.
"Uang 20.000 itu sudah lunas kok. Yang penting bukunya dibaca," tandasnya.

Di sepanjang jalan pulang, di angkot, saya tidak habis mensyukuri apa yang baru saja saya peroleh. Bukan karena mendapatkan harga semurah-murahnya, tapi karena pelajaran penting tentang makna menjadi kaya. Ternyata, orang yang kaya bukanlah orang yang banyak uangnya, tapi orang yang dalam keterbatasannya masih mampu memberi kepada yang lainnya. Saya mungkin tidak akan mendapatkan pelajaran sepenting ini jika saya hanya tau menyambangi toko buku modern yang justru meraup keuntungan dengan menarik biaya display setinggi-tingginya dan menimpakan beban biaya ini kepada para pembeli setianya.

Meski tidak semua pemilik lapak buku bekas memikili kekayaan seperti bapak yang saya temui dulu, tapi setidaknya di lapak buku bekas orang masih bisa menemukan ekspresi kemanusiaan yang spontan, yang--di zaman kemasan seperti sekarang--semakin jarang dijumpai. Dan, meski tidak semua lapak buku bekas menawarkan harga buku yang murah, terutama jika buku yang dijual bersifat collectible, namun saya yakin masih banyak buku-buku bekas yang dijual dalam harga miring dibandingkan harga di toko buku umumnya. Namun, saat ini, ketika interaksi orang diminimalkan oleh komputer, barcode, dan papan informasi, lapak buku bertahan pada mode komunikasi yang dinamis di antara penjual dan pembeli. Dan ketika segala hal direduksi menjadi sekadar transaksi jual beli, di lapak buku bekas seseorang bahkan bisa mendapatkan tidak hanya buku yang dicari tapi juga keakraban bahkan, tak jarang, pertemanan yang karib di antara pemilik lapak dan pelanggan-pelanggannya.


foto: dokumentasi pribadi


Tuesday, April 23, 2013

Everybody needs a little sense of pride ...

Setiap orang membutuhkan sedikit saja penghargaan dari lingkungannya. Penghargaan adalah kebutuhan esensial manusia. Suami membutuhkan penghargaan istri, istri membutuhkan penghargaan suami. Orangtua membutuhkan penghargaan anak, anak juga membutuhkan penghargaan orangtua. Atasan membutuhkan penghargaan bawahan, bawahan juga membutuhkan penghargaan atasan. Bahkan seorang pendosa pun membutuhkan penghargaan, sehingga ia menutup-nutupi dosanya di hadapan orang banyak, takut kalau-kalau ia akan kehilangan penghargaan dari orang-orang di sekitarnya.

Penghargaan terukur dari tidak hanya kepedulian dan perhatian, tapi juga dari simpati dan empati yang diberikan. Tidak cukup dengan hanya tau seseorang sakit, tapi juga kehadiran untuk menjenguk si sakit. Tidak cukup hanya dengan mengucapkan terima kasih pada hadiah yang diterima, tapi juga memakainya dengan suka cita. Tidak cukup hanya dengan mengatakan maaf untuk kealpaan yang tak disengaja, tapi juga berusaha tidak mengulanginya kembali. Tidak cukup hanya dengan memberikan apa yang menjadi kewajiban, tapi juga upaya memberi lebih dari yang bisa diberikan. Pada akhirnya, pemilik seluruh tindakan itu berharap ia akan menerima hal yang sama dari rekannya. Penghargaan selalu diiringi harapan akan resiprositas. Do what you want others do to you, kurang lebihnya begitu.

Saat ini, ketika hubungan manusia tidak lagi terikat pada pola tatap muka, penghargaan tetap tidak tergantikan. Di fesbuk, misalnya, saya sering perhatikan bagaimana orang senang berkomentar dan berharap dikomentari balik, dengan positif tentunya. Sementara di twitter, saya juga sering lihat bagaimana orang memfollow dan berharap difollow balik. Lebih jauh dari itu, saya suka perhatikan bagaimana sharing foto, quotes, words of wisdom, dan notes of opinion menjadi salah satu sarana untuk mendapatkan tidak hanya perhatian tapi juga penghargaan, di samping tujuan untuk berbagi tentunya.

Penghargaan melahirkan kebanggaan. Bangga bahwa dirinya diakui oleh lingkungannya. Kebanggaan melahirkan kepercayaan diri. Dan dari semua sumber rasa percaya diri, rasa bangga yang dibangun oleh keluarga adalah yang utama. Seseorang boleh saja mendapatkan cacian dari lingkungannya, tapi selama ia masih mendapatkan pengakuan dari keluarganya, selama ia masih menerima penghargaan dari pasangannya dan anak-anaknya, ia masih bisa mempertahankan kebanggaan dirinya. Namun ketika tak seorangpun, bahkan keluarganya sekalipun, mampu menghargainya, di titik itulah manusia akan tersadar bahwa kebanggaan bukanlah sesuatu yang ia ciptakan sendiri, melainkan pemberian diam-diam dari Sang Pemilik Kehormatan. Atas kehendak NYA sajalah ia mendapatkan penghargaan dari lingkungannya dan mendulang pengakuan dari kerja yang dilakukan di bawah izin NYA, lain bukan.



foto: dokumentasi pribadi

Friday, April 19, 2013

Impian, Cita, dan Angan

Di salah satu novel terlaris pernah disebutkan: bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. Di tempat lain disebutkan, gapailah cita-citamu setinggi bintang di langit. Jika kau tak mampu meraihnya, setidaknya kau telah sematkan citamu di antara ketinggian bintang. Sementara petuah bijak menyampaikan agar kita tidak panjang angan. Apa beda impian, cita, dan angan?

Kata impian sebenarnya berbagi persamaan dengan kata cita. Keduanya mengandung makna harapan akan sesuatu. Namun, kata impian berbeda dengan kata cita dalam tiga hal. Pertama, sementara cita mengandung target yang ingin dicapai melalui langkah terencana, impian memiliki orientasi yang lebih sulit untuk dicapai meski tidak mustahil. Kedua, sementara cita bergerak di level kesadaran, impian bergerak di level bawah sadar. Ketiga, sementara cita menuntut upaya diri lebih dalam usaha mencapai target yang diharapkan, impian percaya bahwa ada faktor lain di luar diri pribadi yang berkontribusi dalam terealisasinya harapan itu kelak. Bagi sebagian orang, faktor lain itu adalah Yang Maha Berkehendak, sementara bagi sebagian orang lainnya, faktor lain itu adalah alam. Semua kembali ke keyakinan masing-masing.

Nah, berbeda dari arti kata impian maupun cita, kata angan mengandung makna yang sebenarnya cenderung negatif karena angan bersifat semu, tidak realistis. Angan juga sering disebut sebagai mimpi di siang bolong. Itu artinya, impian yang tidak disandarkan pada kenyataaan pun sedianya jatuh menjadi sekadar angan. Impian yang sejati diawali kesadaran sebagai makhluk dan kebutuhan akan kekuatan yang bersifat beyond human, namun impian di siang bolong justru diawali kesombongan (jika bukan kebodohan) memandang diri superhuman kemudian diikuti dengan ketidakmampuan mengukur diri dan melihat batasan yang dimiliki. Astaghfirullahal adziim ...

Meskipun terkesan sederhana, tanpa adanya mawas diri pengetahuan yang sudah given ini bisa dengan mudahnya terlupakan ... Naudzubillahi min dzalik.


foto: dokumentasi pribadi